Wage Rudolf Supratman termasuk di antara para pahlawan nasional yang semasa hidupnya berjuang menghadapi ancaman penjajah dengan tidak menggunakan senjata ataupun aksi massa. Wage adalah seorang seniman. Ia berjuang melalui karya-karya seni indah nan menggelora. Tak jarang orang menyebutnya sebagai seniman patriotik. Syair-syair ciptaannya mengalun damai menggerakkan jutaan jiwa untuk semakin tak gentar melawan penindasan dan menumpas segala bentuk kekejian yang mendera bangsa Indonesia kala itu. Sejarah juga telah mencatat dengan teramat rapi, bahwa lagu-lagu perjuangan yang dipersembahkan Wage telah berhasil meruntuhkan kekuasaan kolonial Belanda yang saat itu mencengkeram kokoh bumi pertiwi. Wage –bahkan di akhir hayatnya sempat menuturkan secarik kalimat yang melegenda, “Saya toh sudah beramal, berjuang dengan caraku, dengan biolaku, Saya yakin Indonesia pasti merdeka”.
Dalam buku biografi bertajuk W.R. Supratman yang ditulis oleh Lilis Nihwan, disebutkan bahwa sosok Wage adalah anak bangsa yang telah berjuang jauh sebelum Indonesia merdeka. Meski hingga penghujung hidupnya Wage tak dapat mendengarkan lantunan lagu ciptaannya berkumandang sebagai lagu kebangsaan, menyaksikan negeri yang diperjuangkannya telah merdeka. Namun, Wage dan karya-karyanya abadi menelurkan pembelajaran dan menyadarkan kita semua akan banyak hal. Di sisi lain, penulis yakin, tak sedikit yang mengenal sosok Wage Rudolf Supratman hanya sebagai pencipta lagu Indonesia Raya. Padahal, jauh sebelum itu Wage telah menggoreskan jejak-jejak pergerakannya melalui media massa maupun lagu-lagu berirama. Wage adalah penulis sekaligus penyair dengan karya yang berkualitas tinggi. Dalam buku biografi yang ditulis Lilis Nihwan juga disebutkan bahwa Wage telah aktif menulis di Pemberita Makassar, Pelita Rakyat, Kaum Muda, Kaum Kita, hingga Sin Po. Wage berjuang dengan karyanya.
Menelusuri jejak Wage Rudolf Supratman bagi penulis adalah laksana menyelami samudera hikmah dan pembelajaran nan begitu luas. Kita, bangsa Indonesia sudah sepatutnya belajar banyak hal. Dari persoal bangsa, bahkan hingga cinta. Persoal bangsa, sosok Wage telah memberikan suri tauladan yang apik bagi anak-anak bangsa penerusnya. Bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan serta mencapai cita bangsa ini tak harus dengan mengangkat senjata atau turut andil secara fisik. Namun, sebagaimana Wage –kita bisa berjuang melalui karya. Tanpa bayang-bayang penjajah, tanpa harus khawatir bersuara melalui lisan maupun tulisan, kita sudah sepatutnya lebih merdeka untuk berkarya. Dalam buku biografi Wage Rudolf Supratman yang lain, karya Bambang Sularto, disebutkan bahwa di akhir-akhir masa hidupnya bahkan ia masih berkarya. Karya terakhir yang diciptakannya adalah lagu berjudul Matahari Terbit. Lagu yang sempat menyebabkan Wage ditahan oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, meskipun akhirnya dibebaskan hingga ia harus berpulang lantaran sakit yang mendera tubuhnya. Wage Rudolf Supratman, ia guru bangsa.
Tak hanya guru bangsa, Wage menurut penulis adalah guru cinta. Walau menurut berbagai sumber sejarah Wage adalah sosok pemuda yang mengalami kehidupan yang cukup terbilang nelangsa. Hidupnya sungguh berat. Dari soal nama, nama pendeknya saja, Wage. Dinamakan begitu karena ia lahir pada kalender pasaran Jawa, Wage. Bahkan, agar bisa masuk sekolah Belanda, Europese Lagere School (ELS), ditambahkanlah nama Rudolf agar terkesan lebih “gagah”. Wage layak disebut guru cinta lantaran ketulusan dan kesetiannya pada wanita yang bahkan sahabat karibnya pun tak dapat mengetahui. Cerita asmara Wage dimuat dalam buku-buku biografi tipis, baik susunan Bambang Soelarto maupun Soebagijo I. N. dalam bahasa Jawa yang diterbitkan Panjebar Semangat (1952).
Wage hidup dalam kesepian dan sakit tiada reda. Terlebih, kala itu Belanda sempat menangkap dan membuinya dengan tuduhan memuji-muji Jepang lantaran lagu ciptaannya, Matahari Terbit. Namun, versi Soebagjo I. N. dituturkan jika sebab utama yang menghancurkan Wage adalah soal asmara. Di tulisan Soebagijo itu terekam pengakuan Wage, “Aku tak bahagia dalam soal cinta”. Namun, Wage tak mau bercerita kepada siapa pun ihwal siapa wanita yang merampas sebagian bahagianya itu. Semua ditutupnya rapat. Bahkan kepada sahabatnya, Imam Supardi. Wage telah mengajarkan pada kita, kesetiaan dan ketulusan. Wage Rudolf Supratman, ia guru cinta.
Referensi:
Lilis Nihwan, W.R. Supratman: Guru Bangsa Indonesia, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2018, Jakarta Timur
Bambang Soelarto, Wage Rudolf Supratman, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, 1985, Jakarta

Komentar
Posting Komentar