#1 Semenjak pagi aku menanti, langit telah sedu, mentaripun sembunyi malu, aku menunggu di teras gelisah, sambil kuratapi burung-burung mungil yang tak kunjung basah, sebab tiada yang lebih bijak, dari hujan di bulan Juni, kata Eyang. Ku ulurkan jemariku, lantas kugapai rintik yang tertahan, ku menengadah, namun tak jua basah, hanya air mata, tiada yang lebih istimewa, dari hujan di bulan Juni, kata Eyang. Aku pernah tertunduk dalam penantian yang sama, bersimpuh menanti rintik, bersama jemari yang kukepal, di bawah gereja tua, hujan pernah bercanda, kita berteduh pada hujan yang tiba-tiba mengering. Namun raut gelisah di matamu masih terpancar, dan akupun turut gelisah, dadaku bergolak bagaikan gemuruh yang melandai ke daratan, kemudian kita saling bercanda, memandang raut jalan yang penuh akan genangan, sampai aku lupa, kepalan tanganmu, wajahmu, indahmu, kini hanya kenangan. Aku hanya bisa menanti ia datang, hujan di bulan Juni, biar aku bisa meraya...