Ketahuilah
Di antara barisan kata yang direngkuh oleh matamu
Aku tertatih pasrah, merangkak menuju kerelaan yang tak terelak
Dan, di antara barisan kata yang tenggelam di sepasang matamu
Aku berlayar ke arah dermaga yang telah habis terjarah, melalui sungai bening yang mengalir begitu tabah, berhulu di mataku
Ketahuilah
Hingga saatnya, langit memintaku pulang
Aku akan bersaksi, tiada —di semesta ini, yang semerdu puisimu
Tak akan pernah ada, bintang tercantik, selain kemilau hangat yang bertengger di matamu
Mustahil, tanpa tanding, yang lebih manis, lebih menarik
Dari sekarung madu, yang kupetik dari pipimu
Aku akan bersaksi, di hadapan bintang-bintang dan semesta yang merdeka
Tiada derap yang dapat menggetarkan tubuhku, memulihkan dukaku.
Selain bisik debu yang berdesir sayu dari langkahmu.
Serta, tak akan pernah.
Tak akan pernah ada degup yang mampu menghancurkan jiwaku, merobohkan dinding-dinding gembira di kalbuku
Selain rinai tawa, bahagiamu, di rengkuh pria. Yang meminangmu.
Wahai, Matahariku
Negeri kita telah merdeka
Tanah air kita telah merdeka
Rayakanlah, merdekalah, dengan pujaan hatimu
Sebab kau masih cantik, meski bukan aku di sampingmu
Kau selamanya cantik, walau tanpa aku
Bumi tempat kita berdiri, matahari, dan bulan yang kau tatap...
anggaplah itu sebagai AKU
Seorang diri, menyesali takdir, ringkih, dan terinjak
Tepat di klinik yang sempat kau datangi
Aku masih rajin, menenun puisi-puisi untuk kau baca
Tubuhku tinggal tulang
Kata perawat, "tinggal menunggu giliran pulang"
Tapi tanganku tetap memaksa
Bahkan, kerap ia bersitegang dengan jarum-jarum yang makin tak berasa menghunus tiap poriku
Sebab tiada yang lebih sakit, dari merelakanmu
Di samping ranjang, tempatmu dulu menggubah syair-syair lagu dariku
Segunung amplop berisi puisi yang tak pernah sampai di matamu
Merupa rasa yang terpuruk sebelum ku pintal di hadapanmu
Aku, terbaring bersama puisi dan cinta yang patah di dekapku, sendiri
Wahai, Matahariku
Di langit nanti, aku akan tetap berpuisi, aku akan tetap berlagu
Menjelma irama yang 'kan memenuhi istana barumu
Menjadi nada-nada yang setia
Dari atas sana, ku layangkan barisan kata-kata di sepasang matamu
Biar syair-syairku menjamah telingamu dan berbisik, memberimu kabar "aku bahagia soal apapun"
Dari balik kain ulos yang bertahun-tahun menyelimuti tubuh tuaku,
kau selalu tiba, sebagai permaisuri, di mimpiku
Disana engkau menemaniku, merajut lagu demi lagu untuk dihadiahkan ke negeri yang baru terbit ini
Disana engkau bersamaku, merapikan dasiku, dan kita berjalan berdua menuju istana para bangsawan
Disana engkau, tak ada Yamin, tak ada siapapun
Selain hanya aku, milikmu
Wahai, Matahariku
Lagu yang pernah kau gubah diperdengungkan di mana-mana
Dicintai, dikagumi, dihayati
Aku bahagia, engkau bahagia, soal itu
Oleh karenanya...
Marilah kita berseru, kita tak akan, pernah satu/

Komentar
Posting Komentar