Langsung ke konten utama

Aku Tak Bahagia Soal Cinta



Ketahuilah

Di antara barisan kata yang direngkuh oleh matamu

Aku tertatih pasrah, merangkak menuju kerelaan yang tak terelak

Dan, di antara barisan kata yang tenggelam di sepasang matamu

Aku berlayar ke arah dermaga yang telah habis terjarah, melalui sungai bening yang mengalir begitu tabah, berhulu di mataku


Ketahuilah

Hingga saatnya, langit memintaku pulang

Aku akan bersaksi, tiada —di semesta ini, yang semerdu puisimu

Tak akan pernah ada, bintang tercantik, selain kemilau hangat yang bertengger di matamu

Mustahil, tanpa tanding, yang lebih manis, lebih menarik

Dari sekarung madu, yang kupetik dari pipimu

Aku akan bersaksi, di hadapan bintang-bintang dan semesta yang merdeka

Tiada derap yang dapat menggetarkan tubuhku, memulihkan dukaku. 

Selain bisik debu yang berdesir sayu dari langkahmu.


Serta, tak akan pernah. 

Tak akan pernah ada degup yang mampu menghancurkan jiwaku, merobohkan dinding-dinding gembira di kalbuku

Selain rinai tawa, bahagiamu, di rengkuh pria. Yang meminangmu.


Wahai, Matahariku

Negeri kita telah merdeka

Tanah air kita telah merdeka

Rayakanlah, merdekalah, dengan pujaan hatimu

Sebab kau masih cantik, meski bukan aku di sampingmu

Kau selamanya cantik, walau tanpa aku


Bumi tempat kita berdiri, matahari, dan bulan yang kau tatap...

anggaplah itu sebagai AKU

Seorang diri, menyesali takdir, ringkih, dan terinjak


Tepat di klinik yang sempat kau datangi

Aku masih rajin, menenun puisi-puisi untuk kau baca

Tubuhku tinggal tulang

Kata perawat, "tinggal menunggu giliran pulang"

Tapi tanganku tetap memaksa

Bahkan, kerap ia bersitegang dengan jarum-jarum yang makin tak berasa menghunus tiap poriku

Sebab tiada yang lebih sakit, dari merelakanmu


Di samping ranjang, tempatmu dulu menggubah syair-syair lagu dariku

Segunung amplop berisi puisi yang tak pernah sampai di matamu

Merupa rasa yang terpuruk sebelum ku pintal di hadapanmu

Aku, terbaring bersama puisi dan cinta yang patah di dekapku, sendiri


Wahai, Matahariku

Di langit nanti, aku akan tetap berpuisi, aku akan tetap berlagu

Menjelma irama yang 'kan memenuhi istana barumu

Menjadi nada-nada yang setia

Dari atas sana, ku layangkan barisan kata-kata di sepasang matamu

Biar syair-syairku menjamah telingamu dan berbisik, memberimu kabar "aku bahagia soal apapun"


Dari balik kain ulos yang bertahun-tahun menyelimuti tubuh tuaku,

kau selalu tiba, sebagai permaisuri, di mimpiku

Disana engkau menemaniku, merajut lagu demi lagu untuk dihadiahkan ke negeri yang baru terbit ini

Disana engkau bersamaku, merapikan dasiku, dan kita berjalan berdua menuju istana para bangsawan

Disana engkau, tak ada Yamin, tak ada siapapun

Selain hanya aku, milikmu


Wahai, Matahariku

Lagu yang pernah kau gubah diperdengungkan di mana-mana

Dicintai, dikagumi, dihayati

Aku bahagia, engkau bahagia, soal itu

Oleh karenanya...

Marilah kita berseru, kita tak akan, pernah satu/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kepastian Hukum Ikrar Talak Oleh Kuasa Hukum Perempuan

Sebagaimana disebut dalam Pasal 1792 ( Burgerlijk Wetboek ), pemberian kuasa adalah suatu persetujuan yang berisikan pemberian kekuasaan kepada orang lain yang menerimanya untuk melakukan sesuatu atas nama orang yang memberikan kuasa. Lebih lanjut, Pasal 1793 BW juga menegaskan bahwa kuasa hukum laki-laki maupun perempuan berada dalam status atau kedudukan yang sama. Pihak yang diberikan kuasa hanya diberikan koridor batasan dalam hukum positif Indonesia untuk tidak melakukan suatu perbuatan yang melampaui kewenangannya. Bila penerima kuasa melakukannya, pemberi kuasa dapat mencabut kuasa yang telah diberikan ataupun menuntut supaya penerima kuasa menghentkan tindakan tersebut. Sementara itu, dalam dimensi hukum Islam pemberian kuasa lebih dikenal dengan istilah wakalah [1] . Islam mensyariatkan wakalah sebab memang manusia membutuhkannya. Setiap manusia membutuhkan manusia lain yang dinilai lebih berkemampuan atau kompeten di urusan tertentu jika sewaktu-waktu ia behalangan atau meman...

Aku dan Sepi

Malam ini, mataku dengan mesra menatap bintang yang nampak murung Di antara barisan awan yang menyapa silih berganti, bintang yang ku tatap hanya menyajikan raut duka, dan lagu-lagu patah tiada henti Hingga, tanpa sadar, tangis bintang yang ku tatap perlahan merangkak menuju kehampaan yang terkulai di jiwaku Ku pejamkan mata, lalu gelap menyapu pelupuk dengan segera. Ku lihat di sana, ada aku. Duduk begitu rapat, berdua dengan bintang yang murung tadi.  Dalam pejamku, ia berkata "kita ini sama. Tersisih dalam kelapangan, DIDEPAK, sepi tanpa kediaman." Masih dalam pejam, aku terdiam. Sementara langit semakin pekat, serupa satu-satunya ruang yang tersisa di barisan arteriku. Satu-satunya yang belum binasa, usai pisah tanpa tanda yang merajam bilik-bilik jantungku, ditebas, teraniaya.  Kemudian setangkai melati secara sengaja menelurkan kelopaknya, patah, dan jatuh persis di atas bahuku. Garis kaku yang dulu ku gadang-gadang, akan menjadi semesta berpulang, cerita demi cerita, y...