Malam ini, mataku dengan mesra menatap bintang yang nampak murung
Di antara barisan awan yang menyapa silih berganti, bintang yang ku tatap hanya menyajikan raut duka, dan lagu-lagu patah tiada henti
Hingga, tanpa sadar, tangis bintang yang ku tatap perlahan merangkak menuju kehampaan yang terkulai di jiwaku
Ku pejamkan mata, lalu gelap menyapu pelupuk dengan segera. Ku lihat di sana, ada aku. Duduk begitu rapat, berdua dengan bintang yang murung tadi.
Dalam pejamku, ia berkata "kita ini sama. Tersisih dalam kelapangan, DIDEPAK, sepi tanpa kediaman."
Masih dalam pejam, aku terdiam. Sementara langit semakin pekat, serupa satu-satunya ruang yang tersisa di barisan arteriku. Satu-satunya yang belum binasa, usai pisah tanpa tanda yang merajam bilik-bilik jantungku, ditebas, teraniaya.
Kemudian setangkai melati secara sengaja menelurkan kelopaknya, patah, dan jatuh persis di atas bahuku. Garis kaku yang dulu ku gadang-gadang, akan menjadi semesta berpulang, cerita demi cerita, yang terpintal dari ranum bibirnya. Bahu, yang ku pikir kelak akan menjelma wahana tidur dari lelahnya.
Setangkai melati itu, begitu bijak menyadarkanku. Bahwa, yang paling indah dari sepi dan kesendirian adalah, mengenangmu sepuasnya.
Bahwa dulu, aku sangat ingin MENETAP di matamu. Kini, mataku MENATAP, dirimu, menetap, di rengkuhan lelaki, yang barusaja memperisterimu.
Bahwa dulu, aku pun sangat percaya jika cinta membuat siapa saja menjadi gila. Dan benar. Saat mencintaimu, bongkahan otakku berpindah ke sepasang dengkulku. Ku pakai berlutut, meminta senyummu.
Kini, aku tak hanya berlutut. Melainkan terpuruk. Bersaksi, atas kekalahanku. Memilikimu, seutuh yang ku mampu.
Masih menatap hamparan langit yang sama. Aku, begitu hina di hadapan bintang dan kerumunan awan. Terdiam, murung, laksana sayap-sayap yang terbang bebas, lalu dipatahkan.
Lalu, ku alihkan sorot mataku pada kunang-kunang yang sedu berdansa, kesana-kemari. Mengguyur mataku dengan keindahan, selaksa bening matamu —kala KITA belum usai.
Beberapa kenang yang lalu, di hadapan koloni kunang-kunang, aku menghampirimu.
Kala itu, aku berkata lirih padamu.
"Aku. Aku telah melalui begitu banyak perjalanan. Dan perjalanan yang paling indah bagiku, adalah perjalanan dari mataku. Menuju matamu"
Kali ini, di hadapan koloni kunang-kunang, aku mengenangmu, sembari ku gumamkan pelan
"Aku. Aku telah melalui ribuan perjalanan. Dan perjalanan yang paling menyakitkan bagiku, adalah perjalanan dari harapku. Menuju kepergianmu"
Kemudian aku tertawa, tepat saat sepasang kunang-kunang mengangkut air mata yang bergiliran jatuh dari mataku
Malam pun semakin larut, seperti kecewa yang tertatih larut menjadi getir di satu-satunya ruang yang tersisa di jantungku.
Jangan dulu redam! Jangan dulu padam! Biar ku nikmati setiap luka yang datang bertubi-tubi menghunusku.
Bintang di atas sana, deretan kelopak melati yang belum ditakdirkan jatuh, dan koloni kunang-kunang yang kini sibuk menghiburku, adalah saksi.
Bahwa, aku tak mudah untuk jatuh cinta. Tak mudah bagiku untuk mencintai.
Maka, sungguh sesakit itu kala kau pergi. Beranjak menuju peluk lelaki lain, yang memaksaku kalah.
Satu-satunya pesta yang berhasil membuatku patah.
Aku hadir, menjabat tanganmu. Lalu lelakimu.
Di hadapan langit yang semakin pekat, aku terdiam murung. Berharap kau pun kini memandang bintang yang sama. Menghapusku, sepenuhnya dari sisa-sisa ingatanmu.
Ku tebak. Nanti, tak lama lagi. Aku akan segera menyaksikanmu, lelakimu, duduk bersama buah hati yang terajut.. Dari kasih tulusmu, pada lelakimu kini, yang dulu —sedetik pun tak pernah kau patrikan padaku.
Aku teramat yakin, anakmu kelak akan secantik KAMU. Dengan senyum madu yang terlukis sempurna di bibirnya, dan mata beningnya —persis serupa mata yang dulu menawanku.
Hanya saja, ku harap puteri kecilmu kelak tak akan se-TEGA kamu. Ku harap, nanti ia tumbuh dewasa menjadi perempuan yang menerima lelakinya. Tak pandai menggantung, dan beranjak pergi pada yang lebih berpunya. Lebih segalanya.
Di sini, di tempatku duduk terdiam murung menatap langit yang selalu pekat.
Aku pernah memujimu,
"Tuhan menjatuhkan setitik keindahan surga ke bumi, dan itu mendarat tepat. Di kedua matamu"
Bertepatan setelah itu, kamu melantunkan janji yang membekas abadi di dinding ingatanku.
"Berjanjilah, jangan pergi. Aku pun berjanji, takkan beranjak, se-jengkal pun dari hatimu", katamu.
Dan, di akhir cerita
janjimu menjelma undangan pesta yang, memamah habis sisa-sisa bahagiaku
Namun, kehilanganmu menyadarkanku akan banyak hal
Termasuk, bahwa sejak awal, tiap insan telah digariskan untuk berpasang-pasangan
Kamu, dan lelakimu
Aku, dan sepi.

Komentar
Posting Komentar