Langsung ke konten utama

Takjil



Selepas petang menguraikan pijarnya, aku beranjak melintasi jalan yang didesak oleh keramaian,

tanpa celah untuk sepi, atau bahkan waktu untuk menepi. 

Di sepanjang jalan, ku dapati tenda-tenda saling bersanding, menghidangkan dan menawarkan, dihampiri dan ditinggalkan

Takjil-takjil itu, mereka tak punya waktu untuk jiwa-jiwa yang hanya singgah

Jiwa-jiwa yang saling memburu tanpa jeda, sebelum langit mengarak senja, pulang ke tempat asalnya

Sorot petang itu terus mengepung tubuhku, yang terpasung meratapi jalan dan kehebohannya,

tenda-tenda itu pun selaksa labirin yang berderu menerpaku menuju ketidakpastian

Hingga, di sela perjalanan, kakiku tertahan pada sebuah tenda yang tak biasa

tenda dimana kita pernah saling bertukar tawa, bersanding, dan memiliki

Saat dimana aku bisa dengan bebas menyelam di sepasang matamu

Sebelum akhirnya sepasang matamu merupa kenang yang penuh sayat, redam dan menikam

Di hadapanku memang sekumpulan takjil yang bertebaran dengan sporadis, 

namun caramu pergi menggelayut di benakku dengan rupa yang terlalu sadis

Aku ingat, kala itu pernah ku rayu engkau dengan majas yang paling romantis, ku katakan "Aku, laksana seluruh takjil yang kau tatap, yang harus bertekuk lutut, menyatakan kalah, pada bongkahan manis yang menggantung di pipimu"

Namun, kini, ingin ku katakan, "Aku, serupa dedaunan yang dijatuhkan rintik hujan, diam menunggu layu, atau terpetik oleh kecewa"

Bias senja kian memudar seiring aku yang makin kaku bagai seonggok kayu. Ku renungi setiap takjil yang seolah-olah balik menatapku. Bahkan, karenamu, setiap takjil di tenda itu menjelma bait-bait puisi nan menggebu.

Lihatlah, gorengan itu! Kini jiwanya tak lagi hangat, persis sepasang tangan yang dulu sempat kau pegang erat. Sebelum kau lepas dengan cepat, menuju peluk lain yang kau sebut tepat.

Lihat juga taburan kelapa pada klepon, getuk, dan cenil itu. Ada, namun tak berarti. Jelmaan kita. Sejati, namun tak sehati.

Atau, coba lihat secangkir cokelat panas itu, ada manis sebelum pahit saat kau nikmati. Selayaknya cinta membuat kita memahami, ada bahagia, sebelum patah hati. 

Di tengah-tengah keramaian, paru-paruku sesak, sebab tiada lagi sisa kehadiranmu yang bisa ku hirup. Sampai akhirnya, ku teguk petang yang lekas temaram. Ku habiskan segelas rindu yang kau sisakan. Tak begitu pahit, namun perih di perasaan. 

Kemudian ku ambil sepotong kecewa, ku iris tipis dengan aksara, yang bungkam membisu dikepung luka. Pun tak lupa, turut ku hadirkan remahan tawa, yang ku pungut dari puing-puing derita. Mencari senyummu yang dulu biasa, kini binasa.

Di hadapan barisan takjil ini aku berjanji. Aku, akan terus mengingatmu sebagai jalan buntu. Sebab kaulah labirin terindah, dimana cintaku rela tersesat, tanpa perlu diselamatkan. 

Mungkin di tenda yang berbeda, kita akan saling bercerita, kau memeluknya dalam ikatan pernikahan. Aku, memeluk sepi.

Rona jingga pun pulang ke pelukan malam. Barisan waktu kemudian memukulku seraya berbisik kenyataan pahit, bahwa....

Kau mencintainya,

kau, bahagia dengannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kepastian Hukum Ikrar Talak Oleh Kuasa Hukum Perempuan

Sebagaimana disebut dalam Pasal 1792 ( Burgerlijk Wetboek ), pemberian kuasa adalah suatu persetujuan yang berisikan pemberian kekuasaan kepada orang lain yang menerimanya untuk melakukan sesuatu atas nama orang yang memberikan kuasa. Lebih lanjut, Pasal 1793 BW juga menegaskan bahwa kuasa hukum laki-laki maupun perempuan berada dalam status atau kedudukan yang sama. Pihak yang diberikan kuasa hanya diberikan koridor batasan dalam hukum positif Indonesia untuk tidak melakukan suatu perbuatan yang melampaui kewenangannya. Bila penerima kuasa melakukannya, pemberi kuasa dapat mencabut kuasa yang telah diberikan ataupun menuntut supaya penerima kuasa menghentkan tindakan tersebut. Sementara itu, dalam dimensi hukum Islam pemberian kuasa lebih dikenal dengan istilah wakalah [1] . Islam mensyariatkan wakalah sebab memang manusia membutuhkannya. Setiap manusia membutuhkan manusia lain yang dinilai lebih berkemampuan atau kompeten di urusan tertentu jika sewaktu-waktu ia behalangan atau meman...

Aku Tak Bahagia Soal Cinta

Ketahuilah Di antara barisan kata yang direngkuh oleh matamu Aku tertatih pasrah, merangkak menuju kerelaan yang tak terelak Dan, di antara barisan kata yang tenggelam di sepasang matamu Aku berlayar ke arah dermaga yang telah habis terjarah, melalui sungai bening yang mengalir begitu tabah, berhulu di mataku Ketahuilah Hingga saatnya, langit memintaku pulang Aku akan bersaksi, tiada —di semesta ini, yang semerdu puisimu Tak akan pernah ada, bintang tercantik, selain kemilau hangat yang bertengger di matamu Mustahil, tanpa tanding, yang lebih manis, lebih menarik Dari sekarung madu, yang kupetik dari pipimu Aku akan bersaksi, di hadapan bintang-bintang dan semesta yang merdeka Tiada derap yang dapat menggetarkan tubuhku, memulihkan dukaku.  Selain bisik debu yang berdesir sayu dari langkahmu. Serta, tak akan pernah.  Tak akan pernah ada degup yang mampu menghancurkan jiwaku, merobohkan dinding-dinding gembira di kalbuku Selain rinai tawa, bahagiamu, di rengkuh pria. Yang memin...

Aku dan Sepi

Malam ini, mataku dengan mesra menatap bintang yang nampak murung Di antara barisan awan yang menyapa silih berganti, bintang yang ku tatap hanya menyajikan raut duka, dan lagu-lagu patah tiada henti Hingga, tanpa sadar, tangis bintang yang ku tatap perlahan merangkak menuju kehampaan yang terkulai di jiwaku Ku pejamkan mata, lalu gelap menyapu pelupuk dengan segera. Ku lihat di sana, ada aku. Duduk begitu rapat, berdua dengan bintang yang murung tadi.  Dalam pejamku, ia berkata "kita ini sama. Tersisih dalam kelapangan, DIDEPAK, sepi tanpa kediaman." Masih dalam pejam, aku terdiam. Sementara langit semakin pekat, serupa satu-satunya ruang yang tersisa di barisan arteriku. Satu-satunya yang belum binasa, usai pisah tanpa tanda yang merajam bilik-bilik jantungku, ditebas, teraniaya.  Kemudian setangkai melati secara sengaja menelurkan kelopaknya, patah, dan jatuh persis di atas bahuku. Garis kaku yang dulu ku gadang-gadang, akan menjadi semesta berpulang, cerita demi cerita, y...