Selepas petang menguraikan pijarnya, aku beranjak melintasi jalan yang didesak oleh keramaian,
tanpa celah untuk sepi, atau bahkan waktu untuk menepi.
Di sepanjang jalan, ku dapati tenda-tenda saling bersanding, menghidangkan dan menawarkan, dihampiri dan ditinggalkan
Takjil-takjil itu, mereka tak punya waktu untuk jiwa-jiwa yang hanya singgah
Jiwa-jiwa yang saling memburu tanpa jeda, sebelum langit mengarak senja, pulang ke tempat asalnya
Sorot petang itu terus mengepung tubuhku, yang terpasung meratapi jalan dan kehebohannya,
tenda-tenda itu pun selaksa labirin yang berderu menerpaku menuju ketidakpastian
Hingga, di sela perjalanan, kakiku tertahan pada sebuah tenda yang tak biasa
tenda dimana kita pernah saling bertukar tawa, bersanding, dan memiliki
Saat dimana aku bisa dengan bebas menyelam di sepasang matamu
Sebelum akhirnya sepasang matamu merupa kenang yang penuh sayat, redam dan menikam
Di hadapanku memang sekumpulan takjil yang bertebaran dengan sporadis,
namun caramu pergi menggelayut di benakku dengan rupa yang terlalu sadis
Aku ingat, kala itu pernah ku rayu engkau dengan majas yang paling romantis, ku katakan "Aku, laksana seluruh takjil yang kau tatap, yang harus bertekuk lutut, menyatakan kalah, pada bongkahan manis yang menggantung di pipimu"
Namun, kini, ingin ku katakan, "Aku, serupa dedaunan yang dijatuhkan rintik hujan, diam menunggu layu, atau terpetik oleh kecewa"
Bias senja kian memudar seiring aku yang makin kaku bagai seonggok kayu. Ku renungi setiap takjil yang seolah-olah balik menatapku. Bahkan, karenamu, setiap takjil di tenda itu menjelma bait-bait puisi nan menggebu.
Lihatlah, gorengan itu! Kini jiwanya tak lagi hangat, persis sepasang tangan yang dulu sempat kau pegang erat. Sebelum kau lepas dengan cepat, menuju peluk lain yang kau sebut tepat.
Lihat juga taburan kelapa pada klepon, getuk, dan cenil itu. Ada, namun tak berarti. Jelmaan kita. Sejati, namun tak sehati.
Atau, coba lihat secangkir cokelat panas itu, ada manis sebelum pahit saat kau nikmati. Selayaknya cinta membuat kita memahami, ada bahagia, sebelum patah hati.
Di tengah-tengah keramaian, paru-paruku sesak, sebab tiada lagi sisa kehadiranmu yang bisa ku hirup. Sampai akhirnya, ku teguk petang yang lekas temaram. Ku habiskan segelas rindu yang kau sisakan. Tak begitu pahit, namun perih di perasaan.
Kemudian ku ambil sepotong kecewa, ku iris tipis dengan aksara, yang bungkam membisu dikepung luka. Pun tak lupa, turut ku hadirkan remahan tawa, yang ku pungut dari puing-puing derita. Mencari senyummu yang dulu biasa, kini binasa.
Di hadapan barisan takjil ini aku berjanji. Aku, akan terus mengingatmu sebagai jalan buntu. Sebab kaulah labirin terindah, dimana cintaku rela tersesat, tanpa perlu diselamatkan.
Mungkin di tenda yang berbeda, kita akan saling bercerita, kau memeluknya dalam ikatan pernikahan. Aku, memeluk sepi.
Rona jingga pun pulang ke pelukan malam. Barisan waktu kemudian memukulku seraya berbisik kenyataan pahit, bahwa....
Kau mencintainya,
kau, bahagia dengannya.

Komentar
Posting Komentar