Langsung ke konten utama

Syair Petani Lobak


Di Negeri Tertius, seorang petani lobak berpuisi....

Tuan, Puan, datanglah kemari
Hampiri aku, dan dekaplah nada-nada getirku
Tenang, aman
Tuan, Puan, jangan pernah takut padaku!
Hamba petani lobak yang hanya punya cangkul dan benih-benih keresahan,
Burung-burung emprit, dan dua kerbau penyakitan serdaduku
Tenang, aman
Mereka hanya melawan pengusik ladang,
Tak membungkam, tak menghukum, apalagi seremeh memenjarakan yang bersuara

Tuan, Puan, kemarilah
Ceritakan padaku, tentang gagahnya dewi keadilan, di negeri ini
Tenang, aman
Hamba cuma punya kerangkeng tikus, yang di dalamnya ku hiasi pernak-pernik kemerlapan, persis hotel berbintang
Tentu tak seperti punya Tuan dan Puan
Di istana Tuan, Puan, tikus-tikus dibakar, dihabisi, dibinasakan hak-haknya, bukan?
Sungguh berbeda denganku, tikus-tikus tawananku masih bisa bebas berdansa dari ladang ke ladang, dari lumbung ke lumbung

Tuan, Puan, kemarilah
Tuan, Puan, jangan pernah takut padaku!
Kawan-kawan hamba cuma para petani, lemah, dan suka merengek kala musim panen
Tak jarang tanah-tanah kami juga dirampas, ditumbuhi gedung-gedung, lalu mengembunkan asap-asap pembawa penyakit
Tuan, Puan... Jangankan melawan, melihat baju-baju mengkilap saja kami lari tak karuan

Tuan, Puan lihatlah, istanaku berselimut anyaman bambu
Tak ada dinding-dinding permata, kursi-kursi kuasa, hingga potret keluarga di dalamnya
Istanaku, rumahku, tepat di tengah-tengah desa
Patung dewi keadilan yang berdiri di seberang rumahku, menghadap rumah-rumah warga
Kini ia tinggal rok dan tangan kirinya saja
Ia seakan melambai-lambai tiap kali kontraktor, mesin-mesin besar, serdadu bertubuh besar, dan (mungkin) rekan Tuan, Puan menyambangi desaku
Seolah ia berseru "Hai, berapa ladang yang akan dibabat pagi ini?"

Tuan, Puan, tolong ceritakan nasibku lima tahun lagi...
Apakah lobak-lobakku akan berubah jadi mutiara?
Apakah aku dan kawan-kawanku makin merdeka bersuara?
Atau negeri kami akan segera bebas dari cengkeraman elit pengacau bangsa?
Ceritakan! Ceritakan nasib gembira itu!

Tuan, Puan, jangan pernah takut padaku!
Hamba petani lobak biasa yang hanya bisa merintih dan merintih
Tak pandai membisukan, menghukum, apalagi menghardik manusia-manusia yang ingin merdeka

Tuan, Puan, teruslah menyejahterakan kami
Seperti dipan-dipan dan kandang ayam kami yang terbuat dari potongan kayu bekas baliho-baliho Tuan dan Puan
Kami bersyukur, kami berterimakasih

Tuan, Puan, disini maling-maling ayam, maling kucing, maling monyet diarak, dirajam, dihakimi beramai-ramai
Namun berat ringannya sungguh tak sesuai,...
Di desaku, maling-maling yang bayar akan diperingan hukumannya
Hamba yakin, Tuan, Puan akan menangis mendengarnya...

Tuan, Puan, bersuara dan berpuisilah tanpa syarat!
Sebab hamba, cuma rakyat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kepastian Hukum Ikrar Talak Oleh Kuasa Hukum Perempuan

Sebagaimana disebut dalam Pasal 1792 ( Burgerlijk Wetboek ), pemberian kuasa adalah suatu persetujuan yang berisikan pemberian kekuasaan kepada orang lain yang menerimanya untuk melakukan sesuatu atas nama orang yang memberikan kuasa. Lebih lanjut, Pasal 1793 BW juga menegaskan bahwa kuasa hukum laki-laki maupun perempuan berada dalam status atau kedudukan yang sama. Pihak yang diberikan kuasa hanya diberikan koridor batasan dalam hukum positif Indonesia untuk tidak melakukan suatu perbuatan yang melampaui kewenangannya. Bila penerima kuasa melakukannya, pemberi kuasa dapat mencabut kuasa yang telah diberikan ataupun menuntut supaya penerima kuasa menghentkan tindakan tersebut. Sementara itu, dalam dimensi hukum Islam pemberian kuasa lebih dikenal dengan istilah wakalah [1] . Islam mensyariatkan wakalah sebab memang manusia membutuhkannya. Setiap manusia membutuhkan manusia lain yang dinilai lebih berkemampuan atau kompeten di urusan tertentu jika sewaktu-waktu ia behalangan atau meman...

Aku Tak Bahagia Soal Cinta

Ketahuilah Di antara barisan kata yang direngkuh oleh matamu Aku tertatih pasrah, merangkak menuju kerelaan yang tak terelak Dan, di antara barisan kata yang tenggelam di sepasang matamu Aku berlayar ke arah dermaga yang telah habis terjarah, melalui sungai bening yang mengalir begitu tabah, berhulu di mataku Ketahuilah Hingga saatnya, langit memintaku pulang Aku akan bersaksi, tiada —di semesta ini, yang semerdu puisimu Tak akan pernah ada, bintang tercantik, selain kemilau hangat yang bertengger di matamu Mustahil, tanpa tanding, yang lebih manis, lebih menarik Dari sekarung madu, yang kupetik dari pipimu Aku akan bersaksi, di hadapan bintang-bintang dan semesta yang merdeka Tiada derap yang dapat menggetarkan tubuhku, memulihkan dukaku.  Selain bisik debu yang berdesir sayu dari langkahmu. Serta, tak akan pernah.  Tak akan pernah ada degup yang mampu menghancurkan jiwaku, merobohkan dinding-dinding gembira di kalbuku Selain rinai tawa, bahagiamu, di rengkuh pria. Yang memin...

Aku dan Sepi

Malam ini, mataku dengan mesra menatap bintang yang nampak murung Di antara barisan awan yang menyapa silih berganti, bintang yang ku tatap hanya menyajikan raut duka, dan lagu-lagu patah tiada henti Hingga, tanpa sadar, tangis bintang yang ku tatap perlahan merangkak menuju kehampaan yang terkulai di jiwaku Ku pejamkan mata, lalu gelap menyapu pelupuk dengan segera. Ku lihat di sana, ada aku. Duduk begitu rapat, berdua dengan bintang yang murung tadi.  Dalam pejamku, ia berkata "kita ini sama. Tersisih dalam kelapangan, DIDEPAK, sepi tanpa kediaman." Masih dalam pejam, aku terdiam. Sementara langit semakin pekat, serupa satu-satunya ruang yang tersisa di barisan arteriku. Satu-satunya yang belum binasa, usai pisah tanpa tanda yang merajam bilik-bilik jantungku, ditebas, teraniaya.  Kemudian setangkai melati secara sengaja menelurkan kelopaknya, patah, dan jatuh persis di atas bahuku. Garis kaku yang dulu ku gadang-gadang, akan menjadi semesta berpulang, cerita demi cerita, y...