Di Negeri Tertius, seorang petani lobak berpuisi....
Tuan, Puan, datanglah kemari
Hampiri aku, dan dekaplah nada-nada getirku
Tenang, aman
Tuan, Puan, jangan pernah takut padaku!
Hamba petani lobak yang hanya punya cangkul dan benih-benih keresahan,
Burung-burung emprit, dan dua kerbau penyakitan serdaduku
Tenang, aman
Mereka hanya melawan pengusik ladang,
Tak membungkam, tak menghukum, apalagi seremeh memenjarakan yang bersuara
Tuan, Puan, kemarilah
Ceritakan padaku, tentang gagahnya dewi keadilan, di negeri ini
Tenang, aman
Hamba cuma punya kerangkeng tikus, yang di dalamnya ku hiasi pernak-pernik kemerlapan, persis hotel berbintang
Tentu tak seperti punya Tuan dan Puan
Di istana Tuan, Puan, tikus-tikus dibakar, dihabisi, dibinasakan hak-haknya, bukan?
Sungguh berbeda denganku, tikus-tikus tawananku masih bisa bebas berdansa dari ladang ke ladang, dari lumbung ke lumbung
Tuan, Puan, kemarilah
Tuan, Puan, jangan pernah takut padaku!
Kawan-kawan hamba cuma para petani, lemah, dan suka merengek kala musim panen
Tak jarang tanah-tanah kami juga dirampas, ditumbuhi gedung-gedung, lalu mengembunkan asap-asap pembawa penyakit
Tuan, Puan... Jangankan melawan, melihat baju-baju mengkilap saja kami lari tak karuan
Tuan, Puan lihatlah, istanaku berselimut anyaman bambu
Tak ada dinding-dinding permata, kursi-kursi kuasa, hingga potret keluarga di dalamnya
Istanaku, rumahku, tepat di tengah-tengah desa
Patung dewi keadilan yang berdiri di seberang rumahku, menghadap rumah-rumah warga
Kini ia tinggal rok dan tangan kirinya saja
Ia seakan melambai-lambai tiap kali kontraktor, mesin-mesin besar, serdadu bertubuh besar, dan (mungkin) rekan Tuan, Puan menyambangi desaku
Seolah ia berseru "Hai, berapa ladang yang akan dibabat pagi ini?"
Tuan, Puan, tolong ceritakan nasibku lima tahun lagi...
Apakah lobak-lobakku akan berubah jadi mutiara?
Apakah aku dan kawan-kawanku makin merdeka bersuara?
Atau negeri kami akan segera bebas dari cengkeraman elit pengacau bangsa?
Ceritakan! Ceritakan nasib gembira itu!
Tuan, Puan, jangan pernah takut padaku!
Hamba petani lobak biasa yang hanya bisa merintih dan merintih
Tak pandai membisukan, menghukum, apalagi menghardik manusia-manusia yang ingin merdeka
Tuan, Puan, teruslah menyejahterakan kami
Seperti dipan-dipan dan kandang ayam kami yang terbuat dari potongan kayu bekas baliho-baliho Tuan dan Puan
Kami bersyukur, kami berterimakasih
Tuan, Puan, disini maling-maling ayam, maling kucing, maling monyet diarak, dirajam, dihakimi beramai-ramai
Namun berat ringannya sungguh tak sesuai,...
Di desaku, maling-maling yang bayar akan diperingan hukumannya
Hamba yakin, Tuan, Puan akan menangis mendengarnya...
Tuan, Puan, bersuara dan berpuisilah tanpa syarat!
Sebab hamba, cuma rakyat.

Komentar
Posting Komentar