Langsung ke konten utama

Surat Terakhir Karlan



Dengan menyebut nama Tuhan, yang begitu bijak menorehkan telaga madu, pada pipi manis merah jambu, yang menggantung padu di wajahmu

Ketahuilah, pada kerumunan bintang yang menggantung di hamparan hitam langit malam ini, ku titipkan sebuah pesan melalui surat yang ku tulis dengan air mata

Ketahuilah, semesta nampak begitu murung malam ini

Bahkan, dari atas dipan tempat kita dahulu meramu tawa

Aku, aku sempat melontarkan tanya pada sekumpulan bintang di atas sana

"Beritahu aku cara paling sederhana, merayakan cinta pada wanita yang tak lagi cinta"


Melalui surat ini, untuk terakhir kali

Ku nyatakan, aku patah hati.

Ya, tepat seusai lontar undangan kawinmu ku terima, rintihan angin tak ubahnya belati yang menancap sadis di sekujur hati

Aku, terpuruk di atas dipan tempat kita dahulu meramu tawa


Kemudian ku jamah kain putih yang sempat kau lilitkan di tanganku

Saat itu kau bentangkan senyum di hadapanku, seolah senyum itu berbisik "semua akan berjalan baik"

Namun, semuanya berbalik

Rasaku tak kau persilahkan barang sedetik

Aku, serupa martil yang dilupakan selepas perang

Terbuang, seorang diri, tanpa kediaman


Seandainya aku tahu, akan sesakit ini pada akhir-nya

Mungkin takkan pernah ku bangun istana megah ini untuk namamu, dan membiarkannya berteduh di naung hatiku. 

Ketahuilah, medan perang telah menantiku

dan aku, aku tak gentar dengan ratusan peluru yang mungkin akan menghunus tubuh kecilku

Sebab kepergianmu jauh lebih mengenaskan, undangan kawinmu jauh-jauh lebih mematikan rasaku

dan kita, kita memang seharusnya percaya

Jatuh cinta memang persoalan sederhana. Yang rumit, mencintai sekaligus dicintai


Ku harap, suratku mampu memperlihatkan pada mata indahmu

Bahwa aku, aku seorang diri Merayakan cemburu, kekal ditebas duka


Terakhir, aku ingin bercerita padamu

Meski tanpa lukisan awan yang hadir merengkuh, Langit masihlah elok dengan ke-hampa-annya. 

Bahkan, saat kuas-kuas Tuhan ditiupkan ke arah gugusan awan yang perlahan melepas pelukan sang Langit. Penduduk angkasa itu bersimpuh merapatkan se-utuh tubuhnya ke bumi. Sudut-sudut lengannya yang rapuh merapal kesakitan, bersaksi atas kenestapaannya sendiri, merayakan hampa beserta sunyi yang riuh mengusik usai kepergian awan, separuh indahnya. 


"Aku pergi bukan untuk menghapusmu. Aku hanya pergi hanya untuk menitipkan namamu, ke tempat yang semestinya. Sebab, kita mustahil satu. Kita, tak akan satu," seru kumpulan awan yang berpaling menuju semesta lain yang diridhoi-Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kepastian Hukum Ikrar Talak Oleh Kuasa Hukum Perempuan

Sebagaimana disebut dalam Pasal 1792 ( Burgerlijk Wetboek ), pemberian kuasa adalah suatu persetujuan yang berisikan pemberian kekuasaan kepada orang lain yang menerimanya untuk melakukan sesuatu atas nama orang yang memberikan kuasa. Lebih lanjut, Pasal 1793 BW juga menegaskan bahwa kuasa hukum laki-laki maupun perempuan berada dalam status atau kedudukan yang sama. Pihak yang diberikan kuasa hanya diberikan koridor batasan dalam hukum positif Indonesia untuk tidak melakukan suatu perbuatan yang melampaui kewenangannya. Bila penerima kuasa melakukannya, pemberi kuasa dapat mencabut kuasa yang telah diberikan ataupun menuntut supaya penerima kuasa menghentkan tindakan tersebut. Sementara itu, dalam dimensi hukum Islam pemberian kuasa lebih dikenal dengan istilah wakalah [1] . Islam mensyariatkan wakalah sebab memang manusia membutuhkannya. Setiap manusia membutuhkan manusia lain yang dinilai lebih berkemampuan atau kompeten di urusan tertentu jika sewaktu-waktu ia behalangan atau meman...

Aku Tak Bahagia Soal Cinta

Ketahuilah Di antara barisan kata yang direngkuh oleh matamu Aku tertatih pasrah, merangkak menuju kerelaan yang tak terelak Dan, di antara barisan kata yang tenggelam di sepasang matamu Aku berlayar ke arah dermaga yang telah habis terjarah, melalui sungai bening yang mengalir begitu tabah, berhulu di mataku Ketahuilah Hingga saatnya, langit memintaku pulang Aku akan bersaksi, tiada —di semesta ini, yang semerdu puisimu Tak akan pernah ada, bintang tercantik, selain kemilau hangat yang bertengger di matamu Mustahil, tanpa tanding, yang lebih manis, lebih menarik Dari sekarung madu, yang kupetik dari pipimu Aku akan bersaksi, di hadapan bintang-bintang dan semesta yang merdeka Tiada derap yang dapat menggetarkan tubuhku, memulihkan dukaku.  Selain bisik debu yang berdesir sayu dari langkahmu. Serta, tak akan pernah.  Tak akan pernah ada degup yang mampu menghancurkan jiwaku, merobohkan dinding-dinding gembira di kalbuku Selain rinai tawa, bahagiamu, di rengkuh pria. Yang memin...

Aku dan Sepi

Malam ini, mataku dengan mesra menatap bintang yang nampak murung Di antara barisan awan yang menyapa silih berganti, bintang yang ku tatap hanya menyajikan raut duka, dan lagu-lagu patah tiada henti Hingga, tanpa sadar, tangis bintang yang ku tatap perlahan merangkak menuju kehampaan yang terkulai di jiwaku Ku pejamkan mata, lalu gelap menyapu pelupuk dengan segera. Ku lihat di sana, ada aku. Duduk begitu rapat, berdua dengan bintang yang murung tadi.  Dalam pejamku, ia berkata "kita ini sama. Tersisih dalam kelapangan, DIDEPAK, sepi tanpa kediaman." Masih dalam pejam, aku terdiam. Sementara langit semakin pekat, serupa satu-satunya ruang yang tersisa di barisan arteriku. Satu-satunya yang belum binasa, usai pisah tanpa tanda yang merajam bilik-bilik jantungku, ditebas, teraniaya.  Kemudian setangkai melati secara sengaja menelurkan kelopaknya, patah, dan jatuh persis di atas bahuku. Garis kaku yang dulu ku gadang-gadang, akan menjadi semesta berpulang, cerita demi cerita, y...