Dengan menyebut nama Tuhan, yang begitu bijak menorehkan telaga madu, pada pipi manis merah jambu, yang menggantung padu di wajahmu
Ketahuilah, pada kerumunan bintang yang menggantung di hamparan hitam langit malam ini, ku titipkan sebuah pesan melalui surat yang ku tulis dengan air mata
Ketahuilah, semesta nampak begitu murung malam ini
Bahkan, dari atas dipan tempat kita dahulu meramu tawa
Aku, aku sempat melontarkan tanya pada sekumpulan bintang di atas sana
"Beritahu aku cara paling sederhana, merayakan cinta pada wanita yang tak lagi cinta"
Melalui surat ini, untuk terakhir kali
Ku nyatakan, aku patah hati.
Ya, tepat seusai lontar undangan kawinmu ku terima, rintihan angin tak ubahnya belati yang menancap sadis di sekujur hati
Aku, terpuruk di atas dipan tempat kita dahulu meramu tawa
Kemudian ku jamah kain putih yang sempat kau lilitkan di tanganku
Saat itu kau bentangkan senyum di hadapanku, seolah senyum itu berbisik "semua akan berjalan baik"
Namun, semuanya berbalik
Rasaku tak kau persilahkan barang sedetik
Aku, serupa martil yang dilupakan selepas perang
Terbuang, seorang diri, tanpa kediaman
Seandainya aku tahu, akan sesakit ini pada akhir-nya
Mungkin takkan pernah ku bangun istana megah ini untuk namamu, dan membiarkannya berteduh di naung hatiku.
Ketahuilah, medan perang telah menantiku
dan aku, aku tak gentar dengan ratusan peluru yang mungkin akan menghunus tubuh kecilku
Sebab kepergianmu jauh lebih mengenaskan, undangan kawinmu jauh-jauh lebih mematikan rasaku
dan kita, kita memang seharusnya percaya
Jatuh cinta memang persoalan sederhana. Yang rumit, mencintai sekaligus dicintai
Ku harap, suratku mampu memperlihatkan pada mata indahmu
Bahwa aku, aku seorang diri Merayakan cemburu, kekal ditebas duka
Terakhir, aku ingin bercerita padamu
Meski tanpa lukisan awan yang hadir merengkuh, Langit masihlah elok dengan ke-hampa-annya.
Bahkan, saat kuas-kuas Tuhan ditiupkan ke arah gugusan awan yang perlahan melepas pelukan sang Langit. Penduduk angkasa itu bersimpuh merapatkan se-utuh tubuhnya ke bumi. Sudut-sudut lengannya yang rapuh merapal kesakitan, bersaksi atas kenestapaannya sendiri, merayakan hampa beserta sunyi yang riuh mengusik usai kepergian awan, separuh indahnya.
"Aku pergi bukan untuk menghapusmu. Aku hanya pergi hanya untuk menitipkan namamu, ke tempat yang semestinya. Sebab, kita mustahil satu. Kita, tak akan satu," seru kumpulan awan yang berpaling menuju semesta lain yang diridhoi-Nya.

Komentar
Posting Komentar