#1
Tuhan, bolehkah pagi ini, hamba berbisik padaMu?
O, sungguh, syair-syair patah sedang mengalun-alun riuh di dalam sukmaku.
Bait-bait patah bersiulan, ia terus menerus berderu, mendekap mataku.
O, sungguh, bahkan aku menyaksikan, angin yang biasanya menjadi sahabatku, ia berlayar menuju bintang, lalu mengembunkan rintik-rintik kepedihan. Temaram, tepat di relung jiwaku.
Tuhan, boleh hamba bercerita padaMu...
Kini, bintang-bintang pun tak lagi ceria. Saban malam mereka menawanku, menghiburku dengan dongeng-dongeng cinta yang patah.
Tuhan, sepatah inikah jatuh di kala cinta?
Bahkan angin, dan bintang-bintang saja tak mampu mengutuhkanku.
Bahkan sekian abad aku merenung pun, tak akan aku sampai pada pemahaman, "mengapa aku sangat mencintainya?"
Sungguh, bahtera cinta ini akan segara karam. Aku sendiri yang menyaksikan, dermaga itu melambaikan bendera pisahnya. Bersahut nyiur yang menyanyikan lagu-lagu patah. Pertanda, aku telah gagal melabuhkan cintanya.
Tuhan, jika memang cintaku padanya terlarang. Lantas mengapa, kau tawankan hatiku kala itu? Mengapa kau basuh aku dengan cinta yang amat sempurna padanya?
Sungguh, kalau memang bahtera ini harus karam pada akhirnya. Tenggelamkan aku bersama cinta yang masih menyala ini.
Biar syair-syair patah itu, kupersembahkan di semesta yang lain...
Barangkali, di semesta yang lain itu, Kau labuhkan bahtera cintaku, tepat di dermaga cintanya.
#2
Wahai dunia, beginikah balasanmu, kepada pencinta yang tulus?
Haruskah kau turunkan hujan-hujan belati ini, untuk menghunus relung inti cintaku?
Mengapa syair-syair cintaku, justru kau patahkan sebelum sampai ke dekap matanya
Kemarin, kau mandikan aku di telaga nirwarnamu. Lantaran, bayang-bayangnya masih hadir dalam rengkuhan jiwaku
Namun kini, bayangan itu pun kau renggut.
Lantas, apa lagi yang aku miliki?
Wahai dunia, sungguh, engkau telah menebas-nebas titik pengharapanku
Kau injak-injak, kau remukkan, cinta yang sempat ku langitkan
Kini, yang tersisa dari kekasihku hanyalah Namanya
Tersebab hati dan jiwanya, sudah dipunyai lelaki lain
Duhai kekasih, hati lelaki mana yang telah menawan keelokanmu?
Datanglah sebentar saja, lalu tikam aku, tepat di pangkal jantung yang mengayun-ayunkan Namamu
Duhai kekasih, memang beginikah akhir terindah seorang pencinta?
Lebur berkeping-keping, bersemayam di lubuk penderitaan
Selamat tinggal kekasih,
senang bisa mencintaimu...

Komentar
Posting Komentar