Ketahuilah
kepedihan telah meranggas begitu ganas,
berlabuh menuju ruas-ruas harapan yang kini tak lagi utuh
Telak
kepergianmu menyisakan luka yang tak terelak
Terkubur
setiap kisah dan tawa yang dulu kita rajut dalam baur, kini rapuh dan perlahan mulai hancur
Dekap
rengkuhlah jiwaku yang patah tertebas oleh harap, seperih luka yang datang dan pergi tanpa pernah diungkap
Kuratapi
hadirmu yang sebatas menemani bukan melengkapi, mecabik-cabik, merobohkan cinta yang tlah kubangun seutuh hati
Heran
cantik parasmu yang menawan, begitu pandai menyajikan kepalsuan
Hunus,
Hunuslah sisa-sisa tawaku yang beranjak pupus, niscaya dengan maaf dan tangis pun, lukaku takkan mampu kau tebus
Ingat,
tepat setelah bait-bait patah kubisikkan
kau beranjak menuju peluk yang tak pernah kuinginkan
Disini, di tubuh yang pernah kau rengkuh, di hati yang pernah kau singgahi
aku masih sendiri, dikoyak-koyak sepi,
bersama sajak-sajak kenang, aku membicarakan senyummu di keindahan yang telah hilang
Lihat,
tepat setelah lampu-lampu dipadamkan
aku menyala sebagai satu-satunya yang kau patahkan, retak berserakan, tanpa kediaman, tersapu kesunyian, mengisahkan kedukaan di kepasrahan yang begitu lapang
Sadar,
bahwa matamu tak pernah bersimpuh untuk menatap hadirku
celah di hatimu pun tak pernah berkenan mempersilahkanku
Disini, sejak awal sampai kini
kepedulianmu hanya menjelma isak
perih dan kecewa yang begitu sesak
Sadar,
aku hanya sekumpulan renjana
bagai badut yang membawa tawa dan cerita
begitu tangismu berhenti, engkau beralih dan menetap ke lain hati

Komentar
Posting Komentar