Langsung ke konten utama

Patah



Kali ini, mataku bersua binar rembulan, ku pandangi lekuknya dengan mesra. Sembari ku nikmati hembusan angin yang makin seru mengalun di pori-pori kulitku.

Lalu, rembulan berbalik menatapku dengan raut yang menyeramkan. Seakan-akan aku mendengar ia berbisik riuh di telingaku, tentang kisah-kisah pelik waktu itu, di September yang sama.

Kini, angin pun rasanya hendak menebasku dengan sejuta ingatan yang pedih. Tiap lantunannya kini memekikkan nada gelisah dan hati yang patah saat itu, di September yang sama.

Sinar sang bulan menjamah tubuhku seiring air mata yang kian deras bersembunyi tepat di bawah pelupuk. Ihwal ingatan yang terus membuatku ingin berjumpa lagi dengannya. Saat ini aku benar-benar tertawan oleh kisah indahku dengannya waktu itu, di September yang sama.

Namun, apalah guna sebuah harap, jika inginku hanyalah kemustahilan. Mustahil jika seseorang dapat kekal memeluk cemburu. Mustahil untuk bersua seseorang yang kini tersekat oleh belahan rasa yang berlainan.

Seandainya Tuhan pun membolehkan aku menikmati lagi senyumnya. Mengentaskan segala harap dan ingatan yang saat ini mencabik-cabik tiap sekat di hatiku. Mungkin, aku lebih memilih untuk tidak kembali.

Di malam yang pelik ini, ada rasa yang tak bisa ku ungkapkan. Ada air mata yang mustahil untuk ku keringkan. Sebab penawarnya ketidakmungkinan.

Bantu aku. Rinduku berserakan.

Jauh sebelum kau banggakan tulus kasihnya. Mengunggah segala mesra dan perhatiannya. Membincangkan pada dunia tentang manis kisahmu dengannya.

Ada aku. Yang sempat kau jadikan alasan, untuk dapat tersenyum dan bangun lagi. Begitu lama. Menjadi nyaman paling berharga bagi sedihmu. Pengering air matamu.

Tapi, kini. Tinggal kunanti air mataku jatuh. Biar nanti kutelan habis semuanya. Sebab, pantang bagiku. Menangisi wanita yang dengan hina menginjak-injak sedunya perjuangan.

Ajari aku.

Cara merayakan rindu pada wanita di balik pelukan lelaki lain.

Sekian lama menanti. Tak ada lelah menghantui. Jauh langkah menapaki. Atas cinta yang lekas memuai.
Waktu kubunuh, sibuk-ku hirau, kadang teman ku sampingkan. Demi mencintaimu.

Sejujur-jujurnya.
Aku masih ingin, memilikimu.
Namun luka kadung menyayat. Sakit tiba sebelum cintaku terungkap.
Terlampau sadis. Lebih kejam dari pembantaian. Aku kau campakkan, sebelum rasaku kau persilahkan. Belum sempat masuk, bahkan untuk sekadar bertamu. Caramu terlalu busuk, untuk menyikapi pelik perjuanganku.

Aku hanya ingin kau sadar, disini ada hati yang tlah lama berdiri tegar. Siap menjadi hangat, disaat kau beku dalam rindu. Rela menjadi darah, kala hatimu mulai patah.

Memang benar, cinta itu mahal harganya. Sekali ia ditawarkan, maka seterusnya akan diperjuangkan. Dan, ketika cinta itu dikecewakan, maka perginya bukan karena menyerah pada keadaan. Melainkan ia sedang menjaga hati supaya tidak tertahan pada harapan yang tak berkesudahan.

Cintaku, masih bertahan, dan sepertinya kekal. Yang pergi, yang hilang, kamu.

Malam ini, aku belajar.
Buat apa menatap langit, sudah tak ada lagi rembulan untukku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kepastian Hukum Ikrar Talak Oleh Kuasa Hukum Perempuan

Sebagaimana disebut dalam Pasal 1792 ( Burgerlijk Wetboek ), pemberian kuasa adalah suatu persetujuan yang berisikan pemberian kekuasaan kepada orang lain yang menerimanya untuk melakukan sesuatu atas nama orang yang memberikan kuasa. Lebih lanjut, Pasal 1793 BW juga menegaskan bahwa kuasa hukum laki-laki maupun perempuan berada dalam status atau kedudukan yang sama. Pihak yang diberikan kuasa hanya diberikan koridor batasan dalam hukum positif Indonesia untuk tidak melakukan suatu perbuatan yang melampaui kewenangannya. Bila penerima kuasa melakukannya, pemberi kuasa dapat mencabut kuasa yang telah diberikan ataupun menuntut supaya penerima kuasa menghentkan tindakan tersebut. Sementara itu, dalam dimensi hukum Islam pemberian kuasa lebih dikenal dengan istilah wakalah [1] . Islam mensyariatkan wakalah sebab memang manusia membutuhkannya. Setiap manusia membutuhkan manusia lain yang dinilai lebih berkemampuan atau kompeten di urusan tertentu jika sewaktu-waktu ia behalangan atau meman...

Aku Tak Bahagia Soal Cinta

Ketahuilah Di antara barisan kata yang direngkuh oleh matamu Aku tertatih pasrah, merangkak menuju kerelaan yang tak terelak Dan, di antara barisan kata yang tenggelam di sepasang matamu Aku berlayar ke arah dermaga yang telah habis terjarah, melalui sungai bening yang mengalir begitu tabah, berhulu di mataku Ketahuilah Hingga saatnya, langit memintaku pulang Aku akan bersaksi, tiada —di semesta ini, yang semerdu puisimu Tak akan pernah ada, bintang tercantik, selain kemilau hangat yang bertengger di matamu Mustahil, tanpa tanding, yang lebih manis, lebih menarik Dari sekarung madu, yang kupetik dari pipimu Aku akan bersaksi, di hadapan bintang-bintang dan semesta yang merdeka Tiada derap yang dapat menggetarkan tubuhku, memulihkan dukaku.  Selain bisik debu yang berdesir sayu dari langkahmu. Serta, tak akan pernah.  Tak akan pernah ada degup yang mampu menghancurkan jiwaku, merobohkan dinding-dinding gembira di kalbuku Selain rinai tawa, bahagiamu, di rengkuh pria. Yang memin...

Aku dan Sepi

Malam ini, mataku dengan mesra menatap bintang yang nampak murung Di antara barisan awan yang menyapa silih berganti, bintang yang ku tatap hanya menyajikan raut duka, dan lagu-lagu patah tiada henti Hingga, tanpa sadar, tangis bintang yang ku tatap perlahan merangkak menuju kehampaan yang terkulai di jiwaku Ku pejamkan mata, lalu gelap menyapu pelupuk dengan segera. Ku lihat di sana, ada aku. Duduk begitu rapat, berdua dengan bintang yang murung tadi.  Dalam pejamku, ia berkata "kita ini sama. Tersisih dalam kelapangan, DIDEPAK, sepi tanpa kediaman." Masih dalam pejam, aku terdiam. Sementara langit semakin pekat, serupa satu-satunya ruang yang tersisa di barisan arteriku. Satu-satunya yang belum binasa, usai pisah tanpa tanda yang merajam bilik-bilik jantungku, ditebas, teraniaya.  Kemudian setangkai melati secara sengaja menelurkan kelopaknya, patah, dan jatuh persis di atas bahuku. Garis kaku yang dulu ku gadang-gadang, akan menjadi semesta berpulang, cerita demi cerita, y...