Kali ini, mataku bersua binar rembulan, ku pandangi lekuknya dengan mesra. Sembari ku nikmati hembusan angin yang makin seru mengalun di pori-pori kulitku.
Lalu, rembulan berbalik menatapku dengan raut yang menyeramkan. Seakan-akan aku mendengar ia berbisik riuh di telingaku, tentang kisah-kisah pelik waktu itu, di September yang sama.
Kini, angin pun rasanya hendak menebasku dengan sejuta ingatan yang pedih. Tiap lantunannya kini memekikkan nada gelisah dan hati yang patah saat itu, di September yang sama.
Sinar sang bulan menjamah tubuhku seiring air mata yang kian deras bersembunyi tepat di bawah pelupuk. Ihwal ingatan yang terus membuatku ingin berjumpa lagi dengannya. Saat ini aku benar-benar tertawan oleh kisah indahku dengannya waktu itu, di September yang sama.
Namun, apalah guna sebuah harap, jika inginku hanyalah kemustahilan. Mustahil jika seseorang dapat kekal memeluk cemburu. Mustahil untuk bersua seseorang yang kini tersekat oleh belahan rasa yang berlainan.
Seandainya Tuhan pun membolehkan aku menikmati lagi senyumnya. Mengentaskan segala harap dan ingatan yang saat ini mencabik-cabik tiap sekat di hatiku. Mungkin, aku lebih memilih untuk tidak kembali.
Di malam yang pelik ini, ada rasa yang tak bisa ku ungkapkan. Ada air mata yang mustahil untuk ku keringkan. Sebab penawarnya ketidakmungkinan.
Bantu aku. Rinduku berserakan.
Jauh sebelum kau banggakan tulus kasihnya. Mengunggah segala mesra dan perhatiannya. Membincangkan pada dunia tentang manis kisahmu dengannya.
Ada aku. Yang sempat kau jadikan alasan, untuk dapat tersenyum dan bangun lagi. Begitu lama. Menjadi nyaman paling berharga bagi sedihmu. Pengering air matamu.
Tapi, kini. Tinggal kunanti air mataku jatuh. Biar nanti kutelan habis semuanya. Sebab, pantang bagiku. Menangisi wanita yang dengan hina menginjak-injak sedunya perjuangan.
Ajari aku.
Cara merayakan rindu pada wanita di balik pelukan lelaki lain.
Sekian lama menanti. Tak ada lelah menghantui. Jauh langkah menapaki. Atas cinta yang lekas memuai.
Waktu kubunuh, sibuk-ku hirau, kadang teman ku sampingkan. Demi mencintaimu.
Sejujur-jujurnya.
Aku masih ingin, memilikimu.
Namun luka kadung menyayat. Sakit tiba sebelum cintaku terungkap.
Terlampau sadis. Lebih kejam dari pembantaian. Aku kau campakkan, sebelum rasaku kau persilahkan. Belum sempat masuk, bahkan untuk sekadar bertamu. Caramu terlalu busuk, untuk menyikapi pelik perjuanganku.
Aku hanya ingin kau sadar, disini ada hati yang tlah lama berdiri tegar. Siap menjadi hangat, disaat kau beku dalam rindu. Rela menjadi darah, kala hatimu mulai patah.
Memang benar, cinta itu mahal harganya. Sekali ia ditawarkan, maka seterusnya akan diperjuangkan. Dan, ketika cinta itu dikecewakan, maka perginya bukan karena menyerah pada keadaan. Melainkan ia sedang menjaga hati supaya tidak tertahan pada harapan yang tak berkesudahan.
Cintaku, masih bertahan, dan sepertinya kekal. Yang pergi, yang hilang, kamu.
Malam ini, aku belajar.
Buat apa menatap langit, sudah tak ada lagi rembulan untukku.

Komentar
Posting Komentar