Langsung ke konten utama

Negeri Tanpa Telinga



[Di suatu mimpi]

Aku diterbangkan angin, menuju sebuah negeri yang berselimut air mata

Tak berperasa, dan tanpa sepasang telinga

Dihantarnya aku tepat ke pelupuk negeri itu, di bawah Beringin yang nampak menguning

Dahan-dahannya gemuk, pupuknya darah Petani

Akarnya melintang, liak-liuk melalap lidah Demonstran

Rantingnya menjalar kemana-mana, dahannya mengepak, bak sekoci kuasa, 

merambat senyap dari istana Menteri, kantor Polisi, hingga rumah dinas Wakil Bupati


Menurut penunggu Beringin itu, hujan disana jatuh merata,

kemarau merata, panas terik merata, korupsi merata, kebodohan merata, nepotisme merata, kebencian merata, keangkuhan merata,

Keadilan tidak merata.


Kemudian angin meniupku lagi, diseretnya tubuhku menuju Alun-alun negeri itu

Di arah utara, kulihat panggung pentas digelar begitu akbar

Penonton terhibur, gemuruh pekikkan tawa

Yang mentas bukan grub-grub lawak, bukan pula selebriti

Yang mentas para pemimpin congkak, yang ngelawak politisi


Di sisi barat, lautan manusia saling hardik dan mengumpat

Memamerkan kebohongan, melantunkan kebodohan

Kubu banteng, kubu lebah, kubu ini, kubu anu, kubu-kubu yang ujung-ujungnya nanti jadi Satu.


Aku tertegun menyaksikan uniknya negeri itu,

penegak hukum jalannya miring, 

hakim ngopi dengan maling,

wakil rakyat sibuk acting,


Ohoi, Negeri macam apa ini?

Di desa-desa, petani dibikin bingung

Yang dibenam biji kedelai, yang tumbuh pabrik-pabrik dan jalan Tol

Di kota-kota pun, banyak pebisnis gagal merintis

Usaha sepatu gulung tikar. Jual beli pulau, galian tambang berhektar-hektar

Di negeri itu, puisi cinta juga tak laku, tapi produk asing laris dituku

Kata seorang bocah,

"Negeri ini punya Bapakku, hakimnya pamanku, komisarisnya bibiku, menteri-menterinya saudara dekatku, walikotanya iparku, jenderal-jenderalnya pun masih tetanggaku"


Seruan angkuh bocah itu membawa angin kembali datang untuk menerbangkanku

Diombang-ambingkannya aku mengitari negeri itu

Ohoi, Langit yang mengatapi negeri itu anyir sekali baunya

Tercium seperti bau lakban basah yang kerap membungkam mulut-mulut penuntut

Perih juga mataku, kala membelah langit negeri itu

Di atas polusi, di bawah kolusi, wakil rakyat minta solusi


Derap demi derap angin menerbangkanku, 

di sepanjang negeri itu kemiskinan, pengangguran dibudidaya

orang-orang dalam, rekan dan sanak famili hidup berlumur harta

Anak-anak terlantar, fakir miskin, dipelihara.... oleh siapa?


Rasanya sungguh berat, menanggung hidup di negeri itu

Hohoho, Negeri itu...

Negeri Tanpa Telinga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kepastian Hukum Ikrar Talak Oleh Kuasa Hukum Perempuan

Sebagaimana disebut dalam Pasal 1792 ( Burgerlijk Wetboek ), pemberian kuasa adalah suatu persetujuan yang berisikan pemberian kekuasaan kepada orang lain yang menerimanya untuk melakukan sesuatu atas nama orang yang memberikan kuasa. Lebih lanjut, Pasal 1793 BW juga menegaskan bahwa kuasa hukum laki-laki maupun perempuan berada dalam status atau kedudukan yang sama. Pihak yang diberikan kuasa hanya diberikan koridor batasan dalam hukum positif Indonesia untuk tidak melakukan suatu perbuatan yang melampaui kewenangannya. Bila penerima kuasa melakukannya, pemberi kuasa dapat mencabut kuasa yang telah diberikan ataupun menuntut supaya penerima kuasa menghentkan tindakan tersebut. Sementara itu, dalam dimensi hukum Islam pemberian kuasa lebih dikenal dengan istilah wakalah [1] . Islam mensyariatkan wakalah sebab memang manusia membutuhkannya. Setiap manusia membutuhkan manusia lain yang dinilai lebih berkemampuan atau kompeten di urusan tertentu jika sewaktu-waktu ia behalangan atau meman...

Aku Tak Bahagia Soal Cinta

Ketahuilah Di antara barisan kata yang direngkuh oleh matamu Aku tertatih pasrah, merangkak menuju kerelaan yang tak terelak Dan, di antara barisan kata yang tenggelam di sepasang matamu Aku berlayar ke arah dermaga yang telah habis terjarah, melalui sungai bening yang mengalir begitu tabah, berhulu di mataku Ketahuilah Hingga saatnya, langit memintaku pulang Aku akan bersaksi, tiada —di semesta ini, yang semerdu puisimu Tak akan pernah ada, bintang tercantik, selain kemilau hangat yang bertengger di matamu Mustahil, tanpa tanding, yang lebih manis, lebih menarik Dari sekarung madu, yang kupetik dari pipimu Aku akan bersaksi, di hadapan bintang-bintang dan semesta yang merdeka Tiada derap yang dapat menggetarkan tubuhku, memulihkan dukaku.  Selain bisik debu yang berdesir sayu dari langkahmu. Serta, tak akan pernah.  Tak akan pernah ada degup yang mampu menghancurkan jiwaku, merobohkan dinding-dinding gembira di kalbuku Selain rinai tawa, bahagiamu, di rengkuh pria. Yang memin...

Aku dan Sepi

Malam ini, mataku dengan mesra menatap bintang yang nampak murung Di antara barisan awan yang menyapa silih berganti, bintang yang ku tatap hanya menyajikan raut duka, dan lagu-lagu patah tiada henti Hingga, tanpa sadar, tangis bintang yang ku tatap perlahan merangkak menuju kehampaan yang terkulai di jiwaku Ku pejamkan mata, lalu gelap menyapu pelupuk dengan segera. Ku lihat di sana, ada aku. Duduk begitu rapat, berdua dengan bintang yang murung tadi.  Dalam pejamku, ia berkata "kita ini sama. Tersisih dalam kelapangan, DIDEPAK, sepi tanpa kediaman." Masih dalam pejam, aku terdiam. Sementara langit semakin pekat, serupa satu-satunya ruang yang tersisa di barisan arteriku. Satu-satunya yang belum binasa, usai pisah tanpa tanda yang merajam bilik-bilik jantungku, ditebas, teraniaya.  Kemudian setangkai melati secara sengaja menelurkan kelopaknya, patah, dan jatuh persis di atas bahuku. Garis kaku yang dulu ku gadang-gadang, akan menjadi semesta berpulang, cerita demi cerita, y...