Pada suatu mimpi, Tuhan menerbangkan tubuhku menuju sebuah negeri yang beratapkan duka dan nestapa
Dimana angin jadi tersangka, polisi bebas menyiksa, direktur punya kuasa, Bupati sibuk sengketa
Negeri yang suburnya bukan kepalang. Pupuknya darah petani, rahang mahasiswa, dan puisi-puisi yang hangus diberedeli
Di negeri mimpi itu, angin yang membunuh 135 nyawa menimangku menuju sudut-sudut di negeri itu
Ku dapati koruptor diarak bertampuk mahkota.
Menuju parlemen, istana, hingga proyek-proyek ibukota
Ku ratapi, gedung-gedung itu punya cerita. Cerita, dan cerita
Mataku terperanjat lalu ku menjerit
Oh Tuhan, gedung kejaksaan hangus dilahap api. CCTV mati, kasus-kasus besar ikutan mati
Oh Tuhan, lihatlah
Gedung Anti Korupsi kena korupsi, 90 pegawainya pungli, ketumnya ngopi sama menteri
Oh Tuhan, apalah ini?
Bagaimana bisa, oh Tuhan? Republik punya perdana menteri. Urusan big data sampai pandemi, orangnya sama tak ganti-ganti
Tuhan, cukup Tuhan.
Apa yang kau perlihatkan padaku, kini?
Gedung Pengawal Konstitusi remuk digertak dinasti. Mahkamah rasa wahana. Datang, masuk, dapat tiket... ke istana
Selepasnya, Tuhan melemparku menuju kota-kota di Negeri itu
Ada bekas ibukota, yang harga lemnya setara jet tempur
Isu agama selalu jadi urusan dapur
Bangunan mangkrak tumbuh subur, elektabilitas turut meluncur
Mampir sebentar aku ke kompi tentara, dimana ratusan hektar tanah dimiliki seorang diri
oleh Bapak-bapak yang gagal berkali-kali
Lalu di sebuah kota yang sedikit menengah, sengketa tanah tak kunjung dibedah, petani protes mengecor kaki, mantan gubernurnya cuci tangan
pesta bola dikebiri, masuk tv dia tak segan
Oh, kota-kota di Negeri Mimpi
begitu teduh, begitu berupa warna
Jutaan pengangguran berteduh di balik baliho manusia yang menjanjikan lapangan kerja
buruh-buruh berteduh, berlindung dari terik undang-undang yang mencekik upahnya
guru-guru pun berteduh, menjerit-jerit meratapi nasibnya
di Negeri Mimpi
politikus susun siasat, pendukungnya saling sayat
di Negeri Mimpi,
satu amplop satu suara
dua amplop untuk panitia
di Negeri Mimpi
kejujuran masih mimpi, keadilan masih mimpi
Yang asli, yang nyata,
Dinasti
Maaf, maksudku
Dinanti

Komentar
Posting Komentar