Langsung ke konten utama

Istana Para Tikus



Di tepi utara Republik Tertius

berdiri megah, Istana Para Tikus

Pagar-pagarnya disolek, berhiaskan permata

Dari luarnya tertulis "Anti Rakyat Biasa"

Parit kecil mengelilingi sekitarnya, memuat aliran sampah —katanya

Syair-syair penderitaan, narasi-narasi protes, kajian akademik, bukti-bukti penindasan...

Dicabik-cabik Para Tikus, dihabisi, diberondong, diinjak-injak, dan tak dibaca


Oh, Istana Para Tikus

Membisukan semut yang bersuara, melantangkan cicak dan kadal yang membayarnya

Oh, Istana Para Tikus

menguasai penguasa

mengendalikan orang-orang biasa


Disana, di Istana Para Tikus

Anggaran-anggaran digodok, proyek-proyek dimatangkan

Bertungku demokrasi, berbahan bakar konstitusi

Lalu disajikan, pada majikan... kroni sendiri


Tak hanya itu

Di ruang sidang Para Tikus

Program-program bebas dilicinkan, atau dibekukan, 

dimuluskan, atau dibiarkan

Di rapat-rapat besar Para Tikus

candi-candi direncanakan, gedung-gedung mangkrak direncanakan, penjara bagi penentang pun direncanakan

Oh, Istana Para Tikus

merencanakan yang tak terencana

berencana pada yang terencana


Menteri-menteri di Istana Para Tikus menjarah segalanya

paket bantuan, tower-tower menara, dana pendidikan, pembangunan jalan, hingga proyek Hamba

Yaa, proyek hamba juga dijarah


Istana Para Tikus di tepi utara republik tertius,

memutuskan putusan yang tak putus

membatalkan putusan yang sudah putus

memperhitungkan tanpa rumus

merumuskan yang tak serius


Di ruang-ruang rehat Para Tikus,

berjajar lukisan-lukisan yang bernyawa

Dari gambar banteng di balik cendana, garuda hingga bola dunia

Kursi-kursi empuk tersusun melingkar di bawahnya

Berlapis emas, sedikit aroma batubara

Dikeruk dari perut rakyat, dirampok dari kerongkongan tanah, yang minta merdeka

Oh, Istana Para Tikus

Taman bermain para majikan, lahan rekreasi para polutan

Ku harap kau, tak Anti Kritika

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kepastian Hukum Ikrar Talak Oleh Kuasa Hukum Perempuan

Sebagaimana disebut dalam Pasal 1792 ( Burgerlijk Wetboek ), pemberian kuasa adalah suatu persetujuan yang berisikan pemberian kekuasaan kepada orang lain yang menerimanya untuk melakukan sesuatu atas nama orang yang memberikan kuasa. Lebih lanjut, Pasal 1793 BW juga menegaskan bahwa kuasa hukum laki-laki maupun perempuan berada dalam status atau kedudukan yang sama. Pihak yang diberikan kuasa hanya diberikan koridor batasan dalam hukum positif Indonesia untuk tidak melakukan suatu perbuatan yang melampaui kewenangannya. Bila penerima kuasa melakukannya, pemberi kuasa dapat mencabut kuasa yang telah diberikan ataupun menuntut supaya penerima kuasa menghentkan tindakan tersebut. Sementara itu, dalam dimensi hukum Islam pemberian kuasa lebih dikenal dengan istilah wakalah [1] . Islam mensyariatkan wakalah sebab memang manusia membutuhkannya. Setiap manusia membutuhkan manusia lain yang dinilai lebih berkemampuan atau kompeten di urusan tertentu jika sewaktu-waktu ia behalangan atau meman...

Aku Tak Bahagia Soal Cinta

Ketahuilah Di antara barisan kata yang direngkuh oleh matamu Aku tertatih pasrah, merangkak menuju kerelaan yang tak terelak Dan, di antara barisan kata yang tenggelam di sepasang matamu Aku berlayar ke arah dermaga yang telah habis terjarah, melalui sungai bening yang mengalir begitu tabah, berhulu di mataku Ketahuilah Hingga saatnya, langit memintaku pulang Aku akan bersaksi, tiada —di semesta ini, yang semerdu puisimu Tak akan pernah ada, bintang tercantik, selain kemilau hangat yang bertengger di matamu Mustahil, tanpa tanding, yang lebih manis, lebih menarik Dari sekarung madu, yang kupetik dari pipimu Aku akan bersaksi, di hadapan bintang-bintang dan semesta yang merdeka Tiada derap yang dapat menggetarkan tubuhku, memulihkan dukaku.  Selain bisik debu yang berdesir sayu dari langkahmu. Serta, tak akan pernah.  Tak akan pernah ada degup yang mampu menghancurkan jiwaku, merobohkan dinding-dinding gembira di kalbuku Selain rinai tawa, bahagiamu, di rengkuh pria. Yang memin...

Aku dan Sepi

Malam ini, mataku dengan mesra menatap bintang yang nampak murung Di antara barisan awan yang menyapa silih berganti, bintang yang ku tatap hanya menyajikan raut duka, dan lagu-lagu patah tiada henti Hingga, tanpa sadar, tangis bintang yang ku tatap perlahan merangkak menuju kehampaan yang terkulai di jiwaku Ku pejamkan mata, lalu gelap menyapu pelupuk dengan segera. Ku lihat di sana, ada aku. Duduk begitu rapat, berdua dengan bintang yang murung tadi.  Dalam pejamku, ia berkata "kita ini sama. Tersisih dalam kelapangan, DIDEPAK, sepi tanpa kediaman." Masih dalam pejam, aku terdiam. Sementara langit semakin pekat, serupa satu-satunya ruang yang tersisa di barisan arteriku. Satu-satunya yang belum binasa, usai pisah tanpa tanda yang merajam bilik-bilik jantungku, ditebas, teraniaya.  Kemudian setangkai melati secara sengaja menelurkan kelopaknya, patah, dan jatuh persis di atas bahuku. Garis kaku yang dulu ku gadang-gadang, akan menjadi semesta berpulang, cerita demi cerita, y...