Tatkala Singa berjalan melalui tanah yang tandus,
Berkali-kali ia mengutuk dunianya
Rahang besarnya merapal-rapalkan penyesalan
Matanya membelalak, mencari teguk yang mampu melenyapkan dahaga
Kawan-kawan, sekutu, dan para pengikut tlah enyah meninggalkannya
Seorang diri, bak melodi hampa di tengah telaga
Singa terus mengutuk dunianya
Rahang besarnya menyeru-nyerukan kepedihan
Nak, di dunia yang begitu indah ini
Di bumi yang nyaris sempurna ini,
Banyak orang dengan keras mempertahankan hidupnya
Nak, di dunia yang katanya elok ini
Tak sedikit yang jatuh bangun meratapi nasibnya
Tak pernah
dunia takkan pernah semulus mimpi-mimpi, yang riuh berkelakar di tidurmu
Nak,
waktu akan berlalu teramat cepat
secepat orang-orang dekat yang kan berangsur pergi meninggalkanmu
Nak,
dongeng ini kelak akan jadi sempurna
tatkala kau benar-benar terpuruk, bersama lukamu, tangismu, rintihanmu
dongeng-dongeng Bapak akan slalu menjadi rumah, yang setia menanti kepulanganmu
Nak,
bila suatu saat kau benar-benar hidup sendiri
dan dunia mencambukmu, mengiris-iris mimpi dan harapanmu
Bapak akan hadir merengkuhmu, menjamah dukamu
Akan Bapak ceritakan dongeng Singa kesukaanmu
Dengan kutukannya, rahang besarnya, dan ketegarannya
Nak,
bila Bapak tak ada lagi di sampingmu
menangislah selembut yang kau bisa, Bapak ada, sedekat nadi dan napasmu
Nak,
Bapak percaya, kau akan setegar Singa, yang tetap berjalan meski rahangnya slalu melumat kata sesal
tetap berjalan, walau hatinya tlah menjadi samudera yang dikepung oleh tangis dan derita
dan, walau air mata terus membanjiri topengnya
Sesempurna dongeng-dongeng Bapak
Kau hebat, kau kuat, kau sempurna

Komentar
Posting Komentar