Aku mengembara ke berbagai pesona, namun tempatku berpulang tetaplah sepasang matamu
Di sudut-sudut lentiknya aku duduk berayun, menenun kata-kata
Kadang di hamparan hitam sorotnya itu aku berlayar menuju pantai-pantai harapan
Ya, matamu laksana dermaga bagi setiap hati yang tiba berlabuh, menatap lalu menetap.
Akan tetapi, usai kepergianmu
kapal-kapal cinta telah kehilangan dermaganya
banyak nahkoda gugur tenggelam mati menanggung kekecewaan.
Kecuali aku, yang masih setia berlayar terombang-ambing di tengah gelombang kerinduan
Ya, laksana nahkoda yang menantikan angin
Di telaga rindu ini, aku menunggu kembali hadirmu
Nanti, entah kapan, saat engkau datang
Perkenankan aku untuk lebih lama lagi menatapmu
Sembari aku bertanya, "siapa yang lebih kejam di antara kita?"
Engkau yang pergi meninggalkanku seorang diri, bertampuk selendang pemberianku, berlabuh pada pelukan lelaki lain yang lebih mentereng, berpunya, dan bergelimang.
Atau aku yang tergeletak di atas kapal kerinduan, berbulan-bulan, terombang-ambing, tanpa secarik pun kabar darimu?
Nanti, entah kapan, saat engkau datang
Bakarlah habis kapal cinta yang nyaris karam ini! Biar ia binasa, tanpa sedikitpun rindu yang tertebas sia-sia.

Komentar
Posting Komentar