Langsung ke konten utama

Juni

 


#1

Semenjak pagi aku menanti,

langit telah sedu, mentaripun sembunyi malu,

aku menunggu di teras gelisah,

sambil kuratapi burung-burung mungil yang tak kunjung basah,

sebab tiada yang lebih bijak, dari hujan di bulan Juni, kata Eyang.

 

Ku ulurkan jemariku, lantas kugapai rintik yang tertahan,

ku menengadah, namun tak jua basah, hanya air mata,

tiada yang lebih istimewa, dari hujan di bulan Juni, kata Eyang.

 

Aku pernah tertunduk dalam penantian yang sama,

bersimpuh menanti rintik, bersama jemari yang kukepal,

di bawah gereja tua, hujan pernah bercanda,

kita berteduh pada hujan yang tiba-tiba mengering.

 

Namun raut gelisah di matamu masih terpancar, dan akupun turut gelisah,

dadaku bergolak bagaikan gemuruh yang melandai ke daratan,

kemudian kita saling bercanda, memandang raut jalan yang penuh akan genangan,

sampai aku lupa, kepalan tanganmu, wajahmu, indahmu, kini hanya kenangan.

 

Aku hanya bisa menanti ia datang, hujan di bulan Juni,

biar aku bisa merayakan euforia itu,

menikmati indahnya masuk kedalam memori lama, sembari memandang hujan yang terpuruk,

meski jauh jarak menyekat, aku merindu,

meski tanganmu tak lagi dapat kukepal, aku menantimu.

 

Walau ragamu tak hadir, aku akan tetap menyambut rintik untuk tiba,

sekalipun aku terluka, memandangmu jauh disana,

dalam kepalan yang sama, tatapan yang sama, rona yang sama, bersama pria lain.

 

Dan aku? Terdiam terpaku, membasahi tubuh dengan hujan di bulan Juni,

meski di dalamnya tertebas pelik,

namun aku tabah.

 

#2

Hari kedua bulan Juni, hujan benar-benar datang,

membawa seikat kabar di jemari basahnya,

tiba padaku dengan gagah, seperti daun-daun yang ditebas mati,

kering dan jatuh, tua dan terpuruk,

mengangkasa tanpa raga, meski harap terpintal tiada.

 

Hari kedua bulan Juni, hujan yang arif benar-benar datang,

digoreskannya luka itu, ia sayat hingga dalam,

akar-akar terlanjur kering, bumi enggan menopang,

dibukanya seikat kabar tadi, lalu hujan semakin menggila,

dipetiknya alunan puisi, dan hujan semakin menggila,

hadir yang tanpa kata, dingin dan selalu memelas damba, semakin menggila.

 

Hujan di hari kedua bulan Juni,

kujelajahi isi pesan Tuhan, sembari kukecup pita merah diatasnya,

kini air mataku seirama, dengan hujan yang semakin menggila,

dicekiknya sebuah harapan, dan dihancurkannya berkeping sisa,

sayangnya aku tak setegar mahoni, tak jua sewangi cendana,

lelaki yang menyambut tua ini, meratapi keniscayaan,

seperti hujan yang semakin menggila, dan patah di atap-atap rumah,

biarkanlah menggenang, biarkanlah berdamai dengan bumi,

cukup,

aku tak perlu isyarat, untuk menanti hujan di kemudian hari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kepastian Hukum Ikrar Talak Oleh Kuasa Hukum Perempuan

Sebagaimana disebut dalam Pasal 1792 ( Burgerlijk Wetboek ), pemberian kuasa adalah suatu persetujuan yang berisikan pemberian kekuasaan kepada orang lain yang menerimanya untuk melakukan sesuatu atas nama orang yang memberikan kuasa. Lebih lanjut, Pasal 1793 BW juga menegaskan bahwa kuasa hukum laki-laki maupun perempuan berada dalam status atau kedudukan yang sama. Pihak yang diberikan kuasa hanya diberikan koridor batasan dalam hukum positif Indonesia untuk tidak melakukan suatu perbuatan yang melampaui kewenangannya. Bila penerima kuasa melakukannya, pemberi kuasa dapat mencabut kuasa yang telah diberikan ataupun menuntut supaya penerima kuasa menghentkan tindakan tersebut. Sementara itu, dalam dimensi hukum Islam pemberian kuasa lebih dikenal dengan istilah wakalah [1] . Islam mensyariatkan wakalah sebab memang manusia membutuhkannya. Setiap manusia membutuhkan manusia lain yang dinilai lebih berkemampuan atau kompeten di urusan tertentu jika sewaktu-waktu ia behalangan atau meman...

Aku Tak Bahagia Soal Cinta

Ketahuilah Di antara barisan kata yang direngkuh oleh matamu Aku tertatih pasrah, merangkak menuju kerelaan yang tak terelak Dan, di antara barisan kata yang tenggelam di sepasang matamu Aku berlayar ke arah dermaga yang telah habis terjarah, melalui sungai bening yang mengalir begitu tabah, berhulu di mataku Ketahuilah Hingga saatnya, langit memintaku pulang Aku akan bersaksi, tiada —di semesta ini, yang semerdu puisimu Tak akan pernah ada, bintang tercantik, selain kemilau hangat yang bertengger di matamu Mustahil, tanpa tanding, yang lebih manis, lebih menarik Dari sekarung madu, yang kupetik dari pipimu Aku akan bersaksi, di hadapan bintang-bintang dan semesta yang merdeka Tiada derap yang dapat menggetarkan tubuhku, memulihkan dukaku.  Selain bisik debu yang berdesir sayu dari langkahmu. Serta, tak akan pernah.  Tak akan pernah ada degup yang mampu menghancurkan jiwaku, merobohkan dinding-dinding gembira di kalbuku Selain rinai tawa, bahagiamu, di rengkuh pria. Yang memin...

Aku dan Sepi

Malam ini, mataku dengan mesra menatap bintang yang nampak murung Di antara barisan awan yang menyapa silih berganti, bintang yang ku tatap hanya menyajikan raut duka, dan lagu-lagu patah tiada henti Hingga, tanpa sadar, tangis bintang yang ku tatap perlahan merangkak menuju kehampaan yang terkulai di jiwaku Ku pejamkan mata, lalu gelap menyapu pelupuk dengan segera. Ku lihat di sana, ada aku. Duduk begitu rapat, berdua dengan bintang yang murung tadi.  Dalam pejamku, ia berkata "kita ini sama. Tersisih dalam kelapangan, DIDEPAK, sepi tanpa kediaman." Masih dalam pejam, aku terdiam. Sementara langit semakin pekat, serupa satu-satunya ruang yang tersisa di barisan arteriku. Satu-satunya yang belum binasa, usai pisah tanpa tanda yang merajam bilik-bilik jantungku, ditebas, teraniaya.  Kemudian setangkai melati secara sengaja menelurkan kelopaknya, patah, dan jatuh persis di atas bahuku. Garis kaku yang dulu ku gadang-gadang, akan menjadi semesta berpulang, cerita demi cerita, y...